Apa Itu Marketing Funnel? Cara Kerja Sales Funnel

Pernahkah anda mendengar marketing funnel? Kalau Anda sudah pernah mempelajari tentang analisis pemasaran, mungkin sudah akrab dengan istilah “funnel”. Penasaran apa sebenarnya “funnel” itu dan fungsinya?

Pada pembahasan sebelumnya, kita sudah membahas mengenai beberapa model marketing seperti

  1. AIDA Marketing
  2. Marketing Mix
  3. McKinsey 7S Framework.

Dan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Marketing Funnel.

Apa Itu Marketing Funnel?

Menurut definisi dari unbounce :

Marketing funnel adalah model yang menggambarkan berbagai tahap perjalanan calon pelanggan dari interaksi pertama dengan merek Anda hingga tujuan akhirnya (pembelian atau konversi). Click To Tweet
apa itu marketing funnel
apa itu marketing funnel

Memahami Marketing Funnel (Sales Funnel)

Anda pasti ingin banyak orang yang mengunjungi website Anda. Saat mereka berkunjung, bukan hanya melihat halaman depan atau sekedar lewat saja.

Anda pasti ingin mereka melakukan sesuatu di sana, entah membeli produk, mendaftarkan diri sebagai member, atau paling tidak mendaftar sebagai subscriber.

Ketika keinginan Anda terpenuhi, itulah yang dinamakan konversi. Pengunjung tidak cuma sekedar melihat-lihat website, tetapi juga melakukan sesuatu yang Anda inginkan.

Sebuah “funnel” dipahami sebagai rangkaian tahapan/proses yang dilewati oleh target market hingga akhirnya melakukan konversi.

Mengapa Marketing Funnel Penting?

Menurut penelitian David Kirkpatrick yang dipublikasikan di Marketing Sherpa , 79 % dari lead dinyatakan gagal pada saat menuju transaksi atau pembelian.

marketing funnel logo marketing sherpa
marketing funnel logo marketing sherpa

Ini artinya 79% usaha yang anda keluarkan untuk memperoleh lead tersebut akan menjadi sia-sia jika tidak dilakukan penjagaan yang baik.

Dari data tersebut, kita dapat melihat mengapa marketing funnel itu penting. karena dengan menggunakan marketing funnel kita dapat melakukan optimasi pada setiap tahapan funnelnya.

Dengan begitu, nilai 79% itu dapat kita kurangi serendah mungkin. Dan efeknya tentu akan meningkatkan penjualan pada bisnis anda.

Penerapan Marketing Funnel dalam Kehidupan Nyata

Funnel sebenarnya ada dalam kehidupan sehari-hari pelanggan. Mari lihat dan bandingkan funnel toko retail dengan funnel ecommerce. Berikut adalah perbandingannya:

Funnel Toko OfflineFunnel Ecommerce
Pelanggan masuk ke tokoPelanggan masuk ke dalam situs
Melihat-lihat produkMelihat-lihat produk pada laman situs
Mengambil produk yang diinginkan dan dimasukkan ke keranjang belanjaMenambahkan produk ke dalam keranjang belanja
Pelanggan selesai dan berjalan ke kasirMeng-klik “Checkout” atau “Selesai”
Sebelum keluar, menyelesaikan pembayaran dulu di kasirMelakukan pembayaran dengan meng-klik “Beli”
perbandingan sales funnel

Melihat perbandingan di atas, funnel pada ecommerce seperti ini:

Marketing Funnel Pada Ecommerce

1000 pengunjung situs

100% pengunjung –> Jumlah pengunjung situs

70% pengunjung –> Yang melihat-lihat produk

35% pengunjung –> Menambahkan produk ke keranjang belanja

5% pengunjung –> Menyelesaikan pembelian produk

Baiklah, kini Anda sudah memahami apa itu funnel dan manfaatnya. Sekarang masuk ke pembahasan Google Analytics.

Marketing Funnel Pada Google Analytic

Google Analytics memfasilitasi Anda untuk membuat sebuah funnel. Berikut ini contoh marketing funnel dari Neil Patel.

marketing funnel google analytics
marketing funnel google analytics

Kita sudah membahas pada tulisan sebelumnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat funnel di Google Analytics:

  • Google Analytics menyediakan funnel yang sederhana. Kalau Anda ingin mendapatkan data mendasar mengenai pengunjung dan tidak ingin terlalu mendalam, gunakan lah Google Analytics.
  • Sekalinya funnel Anda sudah terbentuk, Anda tidak dapat mengembalikannya. Saat itu juga data mulai mengalir masuk ke dalam funnel yang Anda buat.

Contoh Marketing Funnel

Sebagai contoh adalah marketing funnel-nya Amazon. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui pengunjungnya sebelum mereka membeli produk. Beginilah kira-kira:

  • Mengunjungi website Amazon.com
  • Melihat-lihat produk
  • Jika ada produk yang tertarik, masukkan ke dalam keranjang belanja
  • Kemudian melakukan pembelian

Sebenarnya ada beberapa tahapan lainnya disamping poin-poin di atas. Namun itu tidak begitu penting diperhatikan apabila kita berbicara tentang funnel pembelian.

Misalnya, saat pengunjung melihat laman profil Amazon, mencari tahu kontak/customer service, atau mencari lowongan pekerjaan. Semua bagian itu tak perlu diperhitungkan karena bukan bagian dari proses menuju pembelian.

Mengapa serangkaian proses di atas disebut “funnel”? Begini ilustrasinya.

Pertama-tama ada banyak pengunjung yang mengunjungi website Anda.

Kemudian, masuk ke tahap berikutnya, jumlah mereka semakin berkurang. Ada yang kemudian keluar, sedangkan beberapa lanjut ke proses berikutnya. Di sini tentu saja jumlah pengunjung semakin berkurang dan mengerucut.

Bahkan untuk mencapai proses akhir pembelian, dibutuhkan usaha-usaha pemasaran supaya orang-orang tadi tertarik hingga melakukan pembayaran.

Bagian atas dari funnel adalah para pengunjung website Anda. Kemudian, hanya orang-orang yang tertarik untuk membeli yang akhirnya mencapai bagian bawah funnel (proses akhir).

Sehingga saat ada orang bilang “lebarkan funnel-nya”, Anda tahu maksudnya ke mana.

Mereka ingin menggencarkan pemasaran dengan tujuan untuk mendapatkan pelanggan baru, meningkatkan brand awareness, menarik pasar luar untuk masuk, dan sebagainya.

Penggunaan funnel tidak sebatas untuk aktivitas pembelian atau pendaftaran member baru saja. Anda bisa menentukan sesuai yang Anda inginkan.

Di saat Anda sudah memiliki data tertentu, Anda bisa tahu sebenarnya apa yang menghalangi pengunjung untuk melakukan yang Anda inginkan. Dari situ Anda bisa mengevaluasi prosesnya dan mengoptimalkan funnel yang dimiliki. Mari kita bahas lebih dalam.

Kesimpulan

Setelah membahas beberapa hal, berikut adalah kesimpulannya:

  • Saat pengunjung mengunjungi website Anda dan melakukan hal yang Anda inginkan (misalnya mendaftar sebagai member, membeli produk, atau mengisi formulir, dan sebagainya), itulah yang dinamakan konversi.
  • Sebuah funnel digunakan untuk menganalisis setiap proses/tahapan menuju konversi tersebut. Misalnya, perusahaan ecommerce ingin pengunjungnya membeli produk mereka. Funnel-nya mereka akan seperti ini: mengunjungi situs > melihat-lihat produk > menambahkan produk ke keranjang belanja > menyelesaikan pembelian.
  • Adanya laporan funnel membuat Anda tahu di bagian mana orang-orang berhenti dan tidak lanjut ke tahapan konversi.
  • Google Analytics menyediakan funnel bagi Anda, ini adalah bagian dari software gratisnya Google Analytics.

Demikianlah pembahasan kita mengenai marketing funnel, semoga pembahasan ini bermanfaat.

Leave a Comment

Share via