7 Konsep Inti Pemasaran Yang Wajib Diketahui

Apakah anda mengetahui konsep inti pemasaran? Kegiatan pemasaran adalah salah satu aktivitas yang harus diperhatikan betul oleh perusahaan.

Sebab apabila tujuan pemasaran berhasil maka dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan tersebut. Sebaliknya, jika tidak dipantau dengan baik akan menimbulkan kerugian. Ini bisa diakibatkan karena kurangnya pemahaman terhadap konsep inti pemasaran. 

Sebelum lanjut membahas mengenai pemasaran, perlu dipahami dulu kalau pemasaran itu berbeda dengan penjualan. Sebab masih banyak orang-orang di luar sana yang menyamakan keduanya. Konsep penjualan hanya berorientasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Sedangkan konsep pemasaran turut memperhatikan kepuasan konsumen juga. Oleh sebab itu, konsep inti pemasaran cakupannya sangat luas dibandingkan dengan konsep penjualan.

Apa Itu Konsep Pemasaran?

Seorang pemasar tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana memperoleh laba yang besar. Ia pun harus menciptakan strategi agar barang atau jasanya bisa memenuhi kebutuhan pembeli. Di saat yang sama juga harus mampu memenuhi kepuasan pasar yang terus berubah, tidak dapat diprediksi, dan berbeda satu sama lain. Begitu banyaknya tugas seorang pemasar sehingga dibutuhkan seseorang yang sangat berkompeten.

Ada empat faktor yang mempengaruhi konsep inti pemasaran. Konsep ini akan dibahas lebih detail pada bagian selanjutnya, namun perlu diingat bahwa keempat faktor tersebut menjadi dasar konsep pemasaran di industri mana pun. Keempat faktor yang dimaksud adalah, sebagai berikut:

  • Target Pemasaran. Seorang pemasar harus menentukan siapa yang akan ditawarkan barang atau jasanya. Tidak bisa semua orang diberikan produk yang sama sebab kebutuhan dan seleranya akan berbeda-beda. Sasar kelompok yang berpotensi untuk mengonsumsi barang atau jasa yang diproduksi.
  • Kebutuhan Konsumen. Seperti yang disebutkan di atas bahwa kebutuhan konsumen akan bervariasi. Untuk mengetahuinya bisa melalui survey, menyebar kuesioner, dan wawancara. Selain itu, seorang pemasar pun harus sensitif terhadap kebutuhan pasar. Sebab terkadang kebutuhan ini tidak tertulis bahkan tanpa disadari oleh konsumen itu sendiri.
  • Aktivitas Terpadu. Aspek ini dikenal juga dengan mix marketing, artinya ada perpaduan antar elemen-elemen pemasaran, yakni product, price, place, dan promotion (4P). Keempatnya harus disusun secara terintegrasi agar tujuan pemasaran tercapai. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, maka hasilnya akan maksimal.
  • Profitabilitas. Bagaimanapun tujuan akhir sebuah perusahaan adalah mendapatkan keuntungan, maka faktor profitabilitas tidak dapat dilupakan dari kegiatan pemasaran. Namun fokus dari konsep pemasaran tidak hanya mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Kepuasan konsumen menjadi pertimbangan juga karena mereka adalah investasi jangka panjang yang terus memberikan pemasukan bagi perusahaan.

Pemasaran vs Penjualan

Untuk pemahaman yang lebih jelas, maka bisa membandingkan konsep pemasaran dengan konsep penjualan. Beberapa perbedaan di antara keduanya adalah, sebagai berikut:

  • Konsep pemasaran berfokus pada pemenuhan kebutuhan konsumen, sedangkan penjualan berfokus pada volume atau jumlah produk yang terbeli.
  • Pemasaran mengedepankan kepada kegiatan yang terintegrasi (integrated marketing), namun penjualan hanya melakukan aktivitas promosi yang tujuan akhirnya adalah pembelian.
  • Laba yang didapatkan dari kegiatan pemasaran didukung dengan kepuasan pelanggan, sedangkan penjualan hanya melihat seberapa banyak barang atau jasa yang terjual.

7 Konsep Inti Pemasaran dan Penjelasannya

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat dilihat bahwa konsep inti pemasaran akan lebih banyak. Tuntutan yang harus dipenuhi tidak hanya jumlah uang yang dihasilkan dan jumlah barang yang terjual. Ada hal yang bersifat kualitatif dan tak ternilai oleh angka yang harus dicapai. Oleh sebab itu, seorang pemasar harus bersikap fleksibel dan dinamis terhadap segala perubahan.

Konsep inti pemasaran tidak kaku dan cenderung bisa menyesuaikan dinamika pasar lebih cepat. Apalagi didukung dengan kegiatan inovasi tiada henti. Ada tujuh aspek yang bisa digunakan untuk dasar penyusunan strategi pemasaran. Ketujuh aspek tersebut adalah, sebagai berikut:

1. Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan

Ketiga hal ini harus dibedakan karena pemahamannya tidaklah sama. Kebutuhan merupakan sesuatu mendasar yang harus dipenuhi. Kebutuhan tidak diciptakan oleh pemasar, namun datang dari diri seseorang, seperti sandang, pangan, papan, dan apapun untuk memenuhi kehidupannya.

Sedangkan keinginan adalah hasrat yang memuaskan sisi lain seseorang. Bentuknya tidak harus berupa barang (objek), tetapi bisa juga hal lain, misalnya rekreasi, pelayanan berkelas, dan sebagainya. Adapun permintaan merupakan keinginan terhadap suatu produk yang spesifik diiringi dengan kesediaan dan kemampuan untuk membelinya.

Permintaan tidak akan tercipta tanpa adanya daya beli seseorang. Namun permintaan bisa lahir dari keinginan seseorang, bukan hanya dari kebutuhan saja. Sebagai contoh, banyak orang menginginkan smartphone canggih, namun sedikit orang yang mampu membelinya. Maka, hasilnya adalah permintaan tidak akan sebanyak orang yang menginginkannya.

Melihat konsep inti pemasaran dari sisi pemahaman kebutuhan, keinginan, dan permintaan, maka seorang pemasar memang tidak dapat menciptakan kebutuhan namun bisa mempengaruhinya. Sehingga seseorang yang terpengaruh akan muncul keinginan dari dalam diri mereka. Jika keinginan ini bertemu dengan kemampuan membeli, akhirnya terciptalah sebuah permintaan.

2. Produk (Barang, Jasa, dan Gagasan)

Konsep inti pemasaran selanjutnya berhubungan dengan produk. Ingat, tidak selamanya produk adalah sesuatu yang berwujud. Jika produk ini berupa benda dan kasat mata, maka itu adalah barang. Apabila tidak nyata namun bisa memberikan kepuasan, maka produk tersebut digolongkan sebagai jasa. Sedangkan sesuatu yang tidak berupa barang dan jasa namun bisa memiliki nilai (value) tertentu maka itu adalah sebuah gagasan.

Ketiga hal ini harus diperhatikan oleh seorang pemasar agar dapat ditawarkan secara tepat, baik dari komunikasinya, medianya, serta target pasarnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah seorang pemasar atau perusahaan terlalu fokus menawarkan produk barang.

Mereka lupa bahwa jasa dan gagasan pun bagian dari konsep inti pemasaran yang menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan. Maka, perlu diperhatikan kebutuhan konsumen berdasarkan perbedaan ketiga produk ini.

3. Nilai, Biaya, dan Kepuasan

Keputusan pembelian seorang konsumen tidak hanya didasari dengan harga barang atau jasa. Ada hal lain yang menjadi faktor pertimbangannya, yaitu nilai yang terkandung di dalamnya serta kepuasan yang diperoleh. Nilai merupakan total biaya yang dihadapkan dengan kemampuan produk dalam memenuhi kepuasan.

Sebagai contoh, seseorang ingin tiba di kantor lebih cepat. Ia bisa berjalan kaki yang gratis, namun tidak bisa memenuhi keinginan tersebut. Maka, ia rela membayar lebih agar bisa tiba lebih awal di tempat kerjanya.

Adapun biaya (cost) adalah jumlah uang yang dikorbankan seseorang untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Jadi biaya ini akan selalu ada dan harus dipenuhi oleh seorang konsumen untuk mendapatkan sesuatu. Faktor biaya sering menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang memutuskan mau membeli barang atau menggunakan jasa.

Satu lagi, yaitu kepuasan. Ini adalah bagian yang sulit diukur dalam konsep inti pemasaran. Sifatnya sangat subjektif dan cenderung dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang. Semakin tinggi standar hidupnya, maka kepuasannya akan semakin sulit dipenuhi dan ditebak.

Itulah sebabnya sebuah perusahaan memiliki unit kerja quality management yang salah satu tugasnya adalah memastikan kualitas produk sesuai standar sebagai komitmen untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

4. Pertukaran dan Transaksi

Pada dasarnya seseorang dapat memenuhi kebutuhan akan produk melalui empat cara, yaitu memproduksi sendiri, mengambil dari orang lain dengan cara memaksa, meminta bantuan orang lain, dan melakukan pertukaran. Konsep inti pemasaran di sini berfokus pada aktivitas pertukaran (exchange) sebagai awal mula lahirnya sebuah transaksi.

Konsep awal pertukaran adalah barter seperti orang-orang jaman dulu. Satu orang menukar barang dengan orang lain sebagai imbalannya. Barang yang ditukar bisa saling memenuhi kebutuhan atau sesuai dengan kesepakatan. Kini aktivitas pertukaran tersebut berkembang menjadi proses jual-beli mengingat pertukaran barang tidak lagi relevan. Oleh sebab itu, muncullah alat tukar yang berlaku secara universal, yaitu uang.

Adanya pertukaran dalam bentuk transaksi membuat aktivitas ini dipandang sebagai sebuah proses, bukan lagi tindakan pemenuhan kebutuhan semata. Dalam sebuah transaksi terdapat kesepakatan mengenai jenis barang, jumlahnya, serta harga yang harus dibayar.

Selain itu, waktu dan tempat persetujuan pun menjadi faktor yang harus diperhatikan. Apabila kesemua hal ini tidak dilakukan secara transparan, maka akan berujung pada kecurigaan penipuan.

5. Hubungan dan Jaringan

Konsep inti pemasaran berikutnya adalah hubungan dan jaringan, yakni suatu praktik jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan serta memuaskan berbagai pihak. Pihak-pihak di sini bukan hanya konsumen, tetapi juga pemasok (supplier), penyalur, dan rekan bisnis lainnya. Seorang pemasar yang cerdas mampu membangun hubungan baik dengan berbagai pihak sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Hubungan baik dengan berbagai pihak tidak selamanya dilandasi dengan hal-hal baku atau legal. Sebaliknya, hubungan baik yang bertahan lama didasari dengan kepercayaan, sikap kekeluargaan, dan pelayanan yang bersahabat. Hasil dari hubungan baik ini tidak hanya kerjasama jangka panjang, namun juga jaringan bisnis menjadi terbuka luas. Keuntungannya adalah bisnis bisa semakin besar seiring dengan berjalannya waktu.

Jaringan dalam konsep inti pemasaran dapat dipahami sebagai pihak-pihak pendukung yang membantu dalam mencapai tujuan bisnis. Seorang pemasar tidak boleh membatasi diri untuk membangun jaringan. Selain dengan konsumen, agen, dan supplier, jaringan bisnis pun harus bisa menyentuh para akademisi, ilmuwan, tokoh-tokoh masyarakat, dan siapa pun. Sebab peluang bisnis bisa terbuka dari pintu mana saja.

6. Pasar

Apapun yang dilakukan oleh perusahaan dalam mendapatkan keuntungan pasti berhubungan erat dengan pasar. Di pasar lah tempat bertemunya penjual dan pembeli, aktivitas transaksi, serta terciptanya gagasan-gagasan produk baru. Seiring dengan perkembangan jaman, pasar tidak spesifik dipandang sebagai tempat secara fisik. Teknologi mengubah konsep pasar menjadi tempat transaksi, baik berwujud nyata maupun digital.

Ada berbagai macam pasar, baik dilihat dari ukurannya, cakupan konsumen, hingga jenis produk yang ditawarkan. Ukuran pasar dilihat dari seberapa banyak pihak yang melakukan transaksi di dalamnya. Semakin besar ukuran pasar, maka seorang pemasar harus memiliki pengetahuan yang luas terkait karakteristik konsumen, harga yang beredar, pesaing, dan sebagainya.

Pasar dilihat dari cakupan konsumen berarti berhubungan dengan demografis. Misalnya, pasar remaja, dewasa, atau anak-anak. Pada akhirnya, pasar tersebut akan menentukan jenis produk yang ditawarkan, yakni produk rumah tangga, kebutuhan bayi dan anak-anak, dan masih banyak lagi. Sebagian pebisnis menggunakan istilah pasar untuk mengelompokkan target-targetnya, maka lahirnya pemahaman konsep inti pemasaran dari sisi pasar seperti ini.

7. Pemasar dan Calon Pembeli

Konsep inti pemasaran pun harus dipahami bahwa ada dua pihak yang berperan aktif di dalamnya, yaitu pemasar itu sendiri dan calon pembeli. Pemasar adalah pihak yang mencari calon pembeli, bisa satu orang atau lebih, sehingga terciptalah kegiatan transaksi.

Sedangkan di sisi lain, calon pembeli adalah seseorang yang dianggap potensial untuk melakukan kegiatan transaksi tersebut. Faktor yang menentukan potensial atau tidaknya dilihat dari kemampuan membeli dan kesediaan dirinya.

Dalam kondisi yang standar, pemasar merupakan seseorang yang bekerja dari sebuah perusahaan atau pihak yang menawarkan barang atau jasa. Namun kini keadaan sudah berubah, yakni pemasar bisa melakukan dua peran sekaligus. Seorang pemasar bisa sebagai pembeli sekaligus penjual. Hal ini tercermin dari aktivitas reseller yang semakin hari semakin tren di kalangan masyarakat.

Pemasar yang berperan sebagai pembeli dan penjual banyak ditemukan dalam pasar digital. Mereka adalah orang-orang yang membeli sejumlah barang dari orang lain kemudian menjualnya lagi di online store atau bergabung di salah satu marketplace. Aktivitas ini sangat menguntungkan karena perbedaan harga beli dan harga jual biasanya cukup besar. Itulah sebabnya peran reseller jumlahnya semakin banyak.

Di sisi lain, pembeli pun bukan pihak yang pasif. Jaman sekarang justru pembeli adalah pihak yang juga aktif, terutama dalam hal mencari informasi mengenai produk. Maka jangan heran kalau aktivitas pemasaran sekarang arahnya berubah. Kalau dulu hanya satu arah, namun kini menjadi interaksi dua arah. Saat aktivitas pemasar dan pembeli ini bertemu kemudian cocok, akhirnya terciptalah transaksi.

Pemasaran di Era Digital

Seorang pemasar tidak dapat menutup mata dari perkembangan teknologi yang saat ini berkembang begitu cepat. Maka hal tersebut harus diiringi dengan gerak perusahaan dan timnya. Tidak hanya cepat berlari, tetapi juga harus fleksibel. Sebab pemasaran di era digital mencakup pasar dan lingkup yang lebih luas. Ruang dan waktu bukan lagi halangan, semua orang dari berbagai tempat bisa mengakses apapun tanpa batas.

Konsep inti pemasaran di era digital tidak berubah dari ketujuh hal di atas. Hanya saja bentuknya mengalami perluasan dari sebelumnya. Bagaimanapun juga ketujuh poin tersebut adalah pilar dasar sebuah aktivitas pemasaran, baik secara konvensional maupun digital. Namun ada hal lain yang menjadi perhatian dalam pemasaran di era digital saat ini, yaitu:

1. Interaksi Dua Arah

Pemasaran di era digital berfokus pada komunikasi timbal-balik, bukan lagi penyampaian informasi produk satu arah. Artinya, antara penjual dan pembeli harus terbangun interaksi seputar penawaran produk sehingga dari interaksi inilah akan tercipta transaksi.

Posisi penjual saat ini terasa seperti “teman” dan lebih dekat dengan pembeli. Oleh sebab itu, selain sikap bersahabat, respon yang cepat pun harus dilakukan agar tidak kehilangan pembeli yang potensial.

Interaksi dua arah membuat banyak pihak berinovasi dalam kegiatan pemasarannya. Sebagai contoh, adanya fitur chat atau messenger untuk media komunikasi penjual dan pembeli. Selain itu, ada juga fitur notifikasi sebagai pengingat kepada calon pembeli apabila ada update tertentu, seperti harga turun, produk terbaru, atau sale yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

2. Manfaatkan Media Sosial

Inilah hal baru dan berbeda dibandingkan dengan pemasaran konvensional. Pada pemasaran konvensional tidak ada menggunakan media sosial. Kegiatan pemasaran jaman dulu menggunakan media-media cetak, seperti poster, pamflet, billboard, dan sebagainya. Kemunculan media sosial sangat menguntungkan perusahan dari berbagai sisi. Aspek yang paling berpengaruh adalah dari sisi finansial dan komunikasi.

Secara finansial tentu saja media sosial membuat kegiatan pemasaran lebih hemat. Dengan memanfaatkan media sosial, kegiatan pemasaran bisa dilakukan tanpa biaya (zero budget). Di saat bersamaan, media sosial lebih efektif dalam menyebarkan informasi. Melihat tren masyarakat jaman sekarang gemar untuk saling berbagi (sharing). Oleh sebab itu, di era digital dikenal dengan istilah “viral”.

3. Pemilihan Media Digital

Berbeda gaya pemasaran, maka akan berbeda pula media yang digunakan. Di era digital media pemasaran semakin beragam. Ada banyak media baru yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pemasar. Perlu diketahui bahwa media ini tidak sebatas media sosial saja, maka dari itu update mengenai teknologi dan tren user-nya perlu dipantau secara berkala.

Pemilihan media digital yang tepat akan menyasar target yang tepat pula. Cara pemilihan media ini tidak terbatas berdasarkan demografi (jenis kelamin, usia, lokasi, pekerjaan, dan sebagainya), namun perlu dilihat dari gaya hidup, kebiasaan menggunakan gadget, lingkungan sosial, dan lainnya. Lebih jauh lagi, referensi seseorang menggunakan media pun bisa dipengaruhi oleh berbagai pihak, seperti anggota keluarga, rekan kerja, dan masih banyak lagi.

4. Kolaborasi

Mungkin ini terdengar aneh, namun jika ingin bertahan di tengah persaingan bisnis di era digital harus mampu berkolaborasi. Artinya, seorang pemasar harus bisa mencari partner kerjasama yang dapat memperkuat posisi produknya. Namun hati-hati, jangan asal memilih partner sebab resikonya bisa menghancurkan reputasi produk yang selama ini sudah dibangun susah payah.

Kolaborasi yang baik adalah kerjasama antara dua produk yang saling melengkapi. Hindari kerjasama dengan pihak yang membuat produk substitusi atau bahkan sejenis. Sebab apabila kualitas produk partner lebih baik, maka ada kemungkinan konsumen akan pindah ke mereka.

Contoh dari kolaborasi yang baik adalah kerjasama antara produk roti tawar dengan margarin atau selai. Keduanya adalah produk yang saling melengkapi jika dikonsumsi bersamaan. Bentuk kolaborasi lainnya adalah pemasaran motor dengan oli, dan masih banyak contoh lainnya.

Konsep inti pemasaran adalah poin-poin penting yang harus diingat, terutama oleh mereka yang bekerja di bagian pemasaran. Namun jika seseorang sudah menduduki level manajerial, maka apapun unit atau bidangnya harus mengerti konsep ini juga.

Sebab tidak mungkin satu unit terlepas dari tanggung jawabnya dari unit pemasaran dalam memuaskan pelanggan. Sebuah aktivitas pemasaran yang berhasil adalah apabila setiap unit berjalan beriringan untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Share via